Antara Kecepatan dan Ketepatan Dilema Pers Mahasiswa di Era Real-Time

Sumber : IDN Times 

Di era teknologi yang serba cepat seperti sekarang, sebuah kejadian bisa saja langsung ramai di media sosial hanya dalam hitungan menit. Satu postingan yang dibagikan, potongan video yang mulai beredar, lalu informasi yang terus berkembang dari satu akun ke akun lainnya. Akibatnya publik bisa saja sudah lebih dulu mengetahui dan membicarakan suatu kejadian sebelum media benar-benar mengetahui apa yang terjadi. Di sinilah pers menghadapi tantangan yang cukup besar. Ketika sebuah isu mulai ramai, media tentu dituntut untuk segera mencari tahu dan menyampaikan informasi kepada publik. Jika terlambat, informasi tersebut bisa lebih dulu diberitakan oleh media lain. Namun, mengejar kecepatan juga tidak selalu berarti menjadi pilihan yang tepat. Ketika informasi belum diperiksa dan diverifikasi dengan baik, ada kemungkinan berita yang disampaikan justru tidak sesuai dengan fakta. Pers pun akhirnya berada di antara kebutuhan untuk cepat memberitakan dan kewajiban untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan benar.

Kecepatan memang menjadi bagian penting dari kerja pers di era informasi real-time. Pembaca ingin mengetahui suatu peristiwa ketika peristiwa tersebut sedang terjadi, bukan ketika pembahasannya sudah selesai. Akan tetapi, menjadikan kecepatan sebagai perlombaan siapa yang paling dulu mengunggah justru dapat membuat proses jurnalistik kehilangan bagian pentingnya. Jika pers hanya berusaha menjadi pihak pertama yang menyampaikan informasi, lalu apa yang membedakan pemberitaannya dari informasi yang sudah lebih dulu berseliweran di media sosial? Satu unggahan tidak otomatis menjadi sebuah fakta. Sebuah video yang menunjukkan bahwa suatu kejadian itu benar-benar terjadi, tetapi belum tentu dapat menjelaskan penyebab, kronologi, tanggapan dari pihak-pihak yang terlibat, ataupun kesaksian seseorang di lokasi kejadian. Informasi tersebut dapat menjadi petunjuk penting, tetapi tetap membutuhkan konteks dan konfirmasi karena informasi awal sangat mungkin berubah ketika keterangan lain ditemukan.

Namun, dalam situasi yang serba cepat, verifikasi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang memperlambat pemberitaan. Padahal, proses mencari sumber yang jelas, menghubungi pihak terkait, memeriksa informasi yang beredar, dan memastikan bagian mana yang sudah dapat dipertanggungjawabkan, hal ini justru menjadi pembeda antara berita dengan sekadar informasi yang ikut disebarkan. Tanpa proses tersebut, pers hanya berisiko mengulang informasi yang sebenarnya sudah dapat ditemukan siapa saja di media sosial. Dewan Pers melalui Pedoman Pemberitaan Media Siber juga menempatkan verifikasi sebagai prinsip penting dalam pemberitaan. Bahkan ketika informasi yang belum terverifikasi perlu segera disampaikan karena kepentingan publik yang mendesak, media tetap perlu menjelaskan bahwa informasi tersebut masih dalam proses verifikasi dan melakukan pembaruan setelah memperoleh informasi tambahan. Artinya, kebutuhan untuk bergerak cepat bukan alasan untuk menghilangkan kejelasan mengenai apa yang sudah diketahui dan apa yang masih belum pasti.

Namun, bukan berarti pers harus menunggu sampai seluruh informasi terkumpul dengan sempurna. Bayangkan sebuah kejadian baru saja berlangsung di kampus. Redaksi sudah mengetahui waktu dan lokasi kejadian, tetapi kronologi lengkapnya belum jelas, dimana salah satu pihak sudah memberikan keterangan, sementara pihak lainnya belum dapat dihubungi, dan pada saat yang sama unggahan mengenai kejadian tersebut mulai beredar dan memunculkan berbagai versi. Dalam kondisi seperti ini, menahan pemberitaan terlalu lama juga memiliki risiko karena ruang informasi akan tetap berjalan meskipun redaksi belum siap. Karena itu, persoalannya bukan sekadar memilih antara cepat atau tepat. Yang lebih penting adalah menentukan informasi mana yang sudah cukup kuat untuk disampaikan kepada publik. Jika yang baru terkonfirmasi adalah waktu dan lokasi kejadian, maka cukup sampaikan hal tersebut. Jika penyebabnya belum diketahui, tidak perlu dipaksakan menjadi kesimpulan. Jika pihak tertentu belum memberikan keterangan, jelaskan bahwa konfirmasi masih diupayakan.

Cara seperti ini memang tidak selalu membuat pers menjadi yang pertama. Namun, menjadi sedikit lebih lambat karena sedang memastikan tentu berbeda dengan terlambat karena tidak bekerja. Ada perbedaan antara mengejar waktu publikasi dan mengejar informasi yang dapat dipercaya, dan perbedaan tersebut seharusnya tidak diabaikan hanya karena tuntutan untuk selalu menjadi yang pertama. Pada akhirnya, kecepatan yang perlu dikejar bukan hanya seberapa cepat tombol publish ditekan, tetapi seberapa cepat redaksi mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Cepat untuk mencari sumber, menghubungi pihak terkait, memeriksa informasi yang beredar, serta membedakan fakta, dugaan, dan yang masih belum diketahui. Dengan begitu, kecepatan tidak harus menjadi lawan dari ketepatan, tetapi dapat menjadi bagian dari usaha untuk menghadirkan informasi yang benar secepat mungkin.

Pers mahasiswa memang tidak dapat menghindari tuntutan era real-time. Pembaca akan terus bergerak cepat, media sosial akan terus menghasilkan informasi baru, dan isu akan terus berkembang bahkan sebelum sebuah berita selesai ditulis. Namun, pers juga tidak harus kehilangan prinsip hanya karena takut tertinggal beberapa menit. Ketika semua orang berlomba menjadi yang pertama menyampaikan kabar, pers justru memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa apa yang akhirnya disampaikan bukan sekadar informasi yang cepat sampai, tetapi informasi yang memang layak dipercaya.

 

Post Author: pers-upn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *