Aksi Solidaritas Surabaya, Ledakan Emosi Massa Balas Kekerasan Aparat

Tak Lagi Aksi Damai, Aksi Solidaritas Surabaya Merupakan Luapan Kemarahan Masyarakat

Aksi Solidaritas Surabaya

Sumber: Dokumentasi Pribadi LPM Pena Merah

Aksi solidaritas darurat kekerasan aparat yang digelar di depan Gedung Grahadi Surabaya, Jumat (29/8), menjadi lanjutan dari gelombang protes masyarakat setelah tragedi 25 Agustus lalu, ketika pengemudi ojek online Affan Kurniawan tewas dalam kericuhan aksi di Jakarta. Dalam aksi ini, massa yang hadir terdiri dari berbagai elemen masyarakat yang didominasi oleh komunitas ojek online, kelompok masyarakat sipil, mahasiswa, hingga murid Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Massa hari ini berkumpul untuk menyatukan suara dalam kemarahan atas kekerasan aparat terhadap warga sipil.

Berbeda dari aksi sebelumnya, aksi solidaritas ini tak lagi berfokus pada tuntutan politik atau seruan aksi damai. Sejak dimulainya aksi pada pukul 14.00, massa telah meluapkan emosi mereka secara spontan dengan melempar batu, kayu, bendera, bambu, hingga besi ke arah Gedung Negara Grahadi sembari bersorak, “Polisi pembunuh.”

Amukan massa juga menjalar ke area dalam kompleks Grahadi, di mana sebanyak 23 sepeda motor dibakar. Kobaran api dan asap pekat membuat situasi semakin kacau, ditambah dentuman ledakan motor yang terdengar hingga radius lebih dari dua kilometer.

Kondisi semakin memanas ketika aparat kepolisian menembakkan puluhan gas air mata untuk membubarkan massa. Semburan water cannon juga diarahkan ke kerumunan yang terus mendesak masuk ke dalam area Grahadi. Namun, bukannya mundur, massa justru semakin tersulut emosi.

Pihak Brimob dalam aksi tersebut menyampaikan bahwa kericuhan di Jakarta yang menewaskan Affan Kurniawan telah diklarifikasi dan tengah ditangani secara hukum. Mereka juga mengimbau massa untuk tidak mudah terprovokasi serta menahan emosi.

“Tolong peserta demo harap tenang dan jangan mudah terprovokasi. Yakinlah kami tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan kalian, selama kalian tidak melakukan kegiatan yang melanggar undang-undang,” ujar perwakilan dari Brimob dalam usaha mereka untuk menenangkan massa.

Respons dari Brimob memicu ledakan emosi dari massa. Puluhan tembakan gas air mata dan barikade tameng tak dapat menahan luapan emosi dari massa. Kronologi ini menunjukkan bahwa aksi solidaritas di Surabaya bukan lagi unjuk rasa yang terfokus pada penyampaian tuntutan, melainkan luapan kekecewaan dan kemarahan publik yang tidak lagi percaya pada aparat. (cca/fdl/rif/van)

Post Author: pers-upn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *