Mahasiswa Pertanyakan Penggunaan Gedung Giri Loka untuk Audisi D’Academy 8

Suasana Ruang Tunggu Peserta Audisi D’Academy 8
Sumber: Timotius Christian
Mengawali pertengahan tahun 2026, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) membawa kabar tidak terduga dengan hadirnya ajang pencarian bakat D’Academy 8 yang berlokasi di Gedung Giri Loka pada 9 Mei 2026. Gedung yang mulanya hanya digunakan oleh sivitas akademika UPNVJT sebagai fasilitas pusat kegiatan mahasiswa kini kembali menunjukkan wajah barunya setelah sempat diadakan renovasi di bulan Februari 2026. Lantaran renovasi Gedung Giri Loka yang hingga kini masih dalam tahap pembangunan, dengan diselenggarakannya ajang pencarian bakat D’Academy 8 secara mendadak ini sontak menuai tanggapan dari sejumlah mahasiswa.
Sebagian mahasiswa menilai kondisi Gedung Giri Loka masih belum dapat dikatakan memadai untuk dilaksanakannya kegiatan, terlebih dengan hadirnya partisipan selain sivitas akademika UPNVJT. Sejalan dengan hal tersebut, Yonisa (FISIBPOL/24), selaku anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Onigiri, menuturkan kekecewaannya atas keputusan kampus yang lebih mengutamakan pihak eksternal daripada kepentingan mahasiswa.
“Jujur saya sendiri kecewa, kenapa kampus itu baru terlihat mulai diperbaiki ketika ada pihak eksternal yang ingin bekerja sama dengan kampus. Padahal dari dulu anak-anak UKM sudah merasakan kondisi ruangan yang lantainya sampai jebol dan sebenarnya sudah tidak layak dipakai, tapi tetap dipaksakan untuk digunakan,” ujar Yonisa.
Sejak dimulainya renovasi Gedung Giri Loka di awal tahun 2026 kemarin, mahasiswa diminta memahami proses pembangunan tanpa mendapatkan transparansi informasi dari progres pembangunan oleh pihak kampus. Yonisa menyayangkan keterbatasan akses untuk mahasiswa yang hanya dapat melihat kondisi fisik pembangunan gedung dari luar area saja. “Saya sendiri tidak mendapatkan transparansi yang jelas terkait progres pembangunan Giri Loka, mulai dari kapan gedung bisa digunakan kembali sampai perubahan apa saja yang dilakukan di dalamnya,” tuturnya.
Yonisa menduga bahwa renovasi Gedung Giri Loka ini dimaksudkan untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan fasilitas oleh mahasiswa, khususnya yang tergabung dalam UKM. Hingga ia dapati Gedung Giri Loka mengalami perubahan pada penataan ruangan setelah proses renovasi dilakukan, “Setelah diperbaiki, jumlah ruangan di Giri Loka memang terlihat lebih banyak dibanding sebelumnya. Tetapi kalau dilihat sekilas, ruang untuk UKM justru terasa semakin kecil, mungkin karena pihak kampus ingin penggunaan gedungnya dibuat lebih efisien.”
Keputusan kampus yang mendadak dalam mengoperasikan Gedung Giri Loka bila diukur dari rendahnya tingkat kesiapan penggunaan gedung, juga selaras dengan pernyataan Timotius (FISIBPOL/24), selaku salah satu panitia yang bertugas dalam ajang pencarian bakat D’Academy 8. “Kalau dilihat dari kondisi sekarang, menurut saya renovasinya belum bisa dibilang selesai. Soalnya masih ada beberapa bagian gedung yang masih direnovasi, jadi menurut saya gedung itu belum sepenuhnya pantas digunakan,” ungkapnya.
Sebagai pihak panitia yang mengemban tanggung jawab dalam memastikan rangkaian acara ajang pencarian bakat D’Academy 8 berjalan lancar, Timotius juga mengkritisi langkah kampus dalam memilih lokasi acara yang diselenggarakan di gedung yang masih belum sepenuhnya siap digunakan. Ia menilai bahwa Gedung Fakultas Kedokteran (FK) sebenarnya lebih siap dan cocok digunakan dibandingkan Gedung Giri Loka yang hingga kini masih berada dalam tahap renovasi. “Giri Loka itu masih belum 100 persen selesai. Kalau saya sendiri sebagai panitia sebenarnya lebih menyarankan pakai gedung FK karena tempatnya lebih proper,” pungkas Timotius.
Dugaan adanya tujuan lain dari pihak kampus dalam mengoperasikan Gedung Giri Loka khususnya untuk ajang pencarian bakat D’Academy 8 juga menjadi perhatian bagi Yonisa, “Kalau memang alasannya untuk kebutuhan dana kampus atau mencari relasi eksternal itu mungkin bisa dipahami, tetapi di sisi lain mahasiswa internal sendiri justru masih sering kesulitan menggunakan fasilitas tersebut,” ungkapnya. Ia menekankan bahwa selain mementingkan komersial dari penggunaan gedung, pihak kampus sewajarnya tetap harus mengutamakan kepentingan mahasiswa beserta fasilitas yang disediakan.
Adanya renovasi Gedung Giri Loka pada kenyataannya menuai harapan dan pertanyaan di kalangan mahasiswa. Timotius menjelaskan bahwa meskipun adanya keputusan sepihak dari pihak kampus dalam ranah pemanfaatan fasilitas, besar harapannya agar renovasi yang dilakukan dapat benar-benar diorientasikan untuk menunjang kebutuhan serta aktivitas mahasiswa ke depannya.
“Harapannya ke depan, fasilitas kampus seperti Giri Loka bisa dipersiapkan dengan lebih matang dan lebih diprioritaskan untuk kebutuhan mahasiswa yang memiliki kegiatan di dalam kampus. Tidak hanya Giri Loka, tetapi seluruh fasilitas kampus diharapkan benar-benar dapat digunakan dan diakses mahasiswa dengan lebih mudah sebagai penunjang aktivitas mereka,” tutup Timotius. (isa/agn/tta/sey)
