Oleh: El-Zahra Anindya A

Sumber: Laman Website Gramedia Digital
|
Judul: |
Perempuan di Titik Nol |
|
Pengarang: |
Nawal el-Saadawi |
|
Penerbit: |
Yayasan Obor Indonesia, 1989 |
|
ISBN: |
979-461-0402, 978-979-461-0404 |
|
Tebal: |
157 halaman |
Sinopsis
Mengisahkan Firdaus seorang perempuan menanti dieksekusi mati karena membunuh germo. Bukannya gentar Firdaus justru menyambut kematiannya dengan kepala tegak, dan memilihnya sebagai jalan menuju kebebasan sejati. Melalui pengakuannya yang jujur dan mengguncang, Firdaus membawa kita menyusuri hidupnya yang penuh luka masa kecil yang pahit, eksploitasi seksual, hingga menjadi pelacur papan atas di Kairo. Di tengah kekejaman dan patriarki, Firdaus melawan dengan keberanian luar biasa dan tekad yang tak terpatahkan.
Berdasarkan kisah nyata dan ditulis oleh Nawal el-Saadawi, aktivis feminis terkemuka Mesir, Perempuan di Titik Nol menjadi buku best seller yang menyentuh hati pembaca di berbagai negara, sekaligus sebuah kisah perlawanan, kebebasan, dan martabat manusia.
Resensi
Kali pertama membaca saat menemukan buku ini tak tersentuh tergeletak di lantai yang saat itu adalah milik teman. Perempuan di Titik Nol menceritakan tentang seorang feminis bernama Nawal el-Saadawi yang mengunjungi penjara Qanatir untuk melakukan penelitian tentang penyakit saraf (neurosis) di kalangan wanita Mesir. Buku ini ditulis setelah Nawal el-Saadawi bertemu dengan seorang wanita di dalam penjara tersebut, Firdaus namanya.
Wanita yang menghitung sisa hidupnya yang sedikit dengan tabah karena dijatuhi hukuman mati setelah membunuh seorang germo. Banyak wanita yang ditemui si penulis dalam penjara itu, namun Firdaus tetap wanita yang khusus baginya, ia menonjol di antara para wanita yang lain. Itulah mengapa Nawal el-Saadawi mengabadikan kisah Firdaus dalam buku setelah kematian untuk memberinya kehidupan setelah mati.
Firdaus adalah seorang wanita yang cinta dengan ilmu sejak kecil, terkadang ia suka membaca buku yang dibawa pamannya ketika pulang dari Al-Azhar. Firdaus kecil memiliki cita-cita dan rasa keingintahuan terhadap ilmu yang tinggi. Ia juga bercita-cita ingin pergi ke Al-Azhar seperti sang paman, tetapi paman Firdaus berkata bahwa Al-Azhar hanya untuk laki-laki saja, perempuan dilarang kesana.
Mendengarnya Firdaus kecil berjalan merenung sembari mempertanyakan siapakah dirinya. Setelah kedua orang tua Firdaus meninggal, paman Firdaus membawanya ke Kairo karena tidak ada lagi yang dapat mengurus Firdaus kecil. Di sana sang paman menyekolahkan Firdaus di sekolah dasar.
Kala itu Firdaus mengira bahwa hidupnya akan berjalan indah karena tinggal bersama seorang paman yang menyayangi dirinya. Kenyataannya paman Firdaus hanya kambing berbulu domba dan menjadi orang pertama yang menghancurkan Firdaus.
Setelah lulus dari sekolah menengah, Firdaus dipaksa menikah dengan seorang pria yang jauh lebih tua darinya dengan maskawin besar yang tentunya tidak akan pernah dinikmati Firdaus karena telah diambil sang paman. Saat menikah, umur Firdaus belum sampai sembilan belas tahun namun penderitaannya berlanjut. Suami Firdaus sering sekali menyiksa Firdaus hanya karena ia tidak sengaja menumpahkan bahan dapur atau tidak menghabiskan butir kering nasi di piringnya.
Firdaus yang tidak tahan dengan perlakuan sang suami akhirnya melarikan diri berharap di luar sana ada angin segar tanpa penderitaan yang bisa ia hirup. Namun, takdir berkata lain seakan tak ada kata bebas dalam hidup Firdaus. Perjalanan pahit Firdaus membawanya terjebak ke dalam dunia prostitusi yang awalnya ia anggap sebagai cara untuk memperoleh kebebasan dan hak atas dirinya sendiri.
Kelebihan buku Perempuan di Titik Nol adalah isi ceritanya yang menggambarkan realita perjuangan seorang wanita yang hidup dikalangan masyarakat patriarki, di mana seorang wanita banyak dipandang rendah dan tidak layak memiliki pendidikan yang tinggi. Buku ini juga menceritakan bahwa setiap wanita memiliki kendali dan hak atas dirinya sendiri, mereka memiliki impian, kebebasan, dan cita-cita yang setara dengan laki-laki.
Penulis juga berhasil menyampaikan kritik sosial yang tajam atas ketidakadilan gender, kekerasan pada wanita, serta struktur kekuasaan yang menempatkan wanita pada posisi yang lemah. Buku ini ditulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami namun emosional, sehingga para pembaca dapat merasakan emosi marah, hampa, dan keputusasaan yang dialami Firdaus.
Kekurangan buku ini adalah, meskipun memiliki cerita yang kuat dan emosional, mungkin beeberapa bagian dalam buku ini akan terasa berat bagi sebagian pembaca karena mengandung kekerasan, eksploitasi, dan ketidakadilan. Selain itu alur cerita yang cukup kelam membuat pembaca harus berhenti sejenak untuk menenangkan pikiran sebelum kembali membaca.
Secara keseluruhan buku Perempuan di Titik Nol merupakan buku yang menggugah untuk para pembaca melalui kisah Firdaus, penulis berhasil menyampaikan perjuangan seorang wanita untuk memperoleh kebebasan, keadilan, dan hak atas diri mereka sendiri dalam masyarakat yang sering kali tidak adil kepada mereka.
