Media Informasi Kampus Berbasis AI Dianggap Kesampingkan Kreativitas Mahasiswa

Tampilan Materi Menggunakan AI dalam Kegiatan Pembelajaran di UPNVJT
Sumber: Dokumentasi Pribadi LPM Pena Merah
Pemanfaatan artificial intelligence (AI) mulai menjadi bagian dari kegiatan akademik di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT). Teknologi ini digunakan untuk membantu menyiapkan materi pembelajaran sekaligus media dalam penyampaian informasi kepada mahasiswa melalui media sosial. Sebelum dibagikan kepada mahasiswa, hasil keluaran AI akan melewati tahap pemeriksaan ulang. Langkah ini dilakukan guna memastikan kebenaran informasi, serta kesesuaian dengan materi pembelajaran.
Sejalan dengan hal tersebut, pengalaman salah satu dosen dalam memanfaatkan AI dapat menjadi gambaran mengenai bagaimana teknologi ini digunakan dalam kegiatan akademik. Dosen Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) UPNVJT, Bayu Setiawan, menilai AI merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang tidak dapat dihindari dalam kegiatan akademik. Menurutnya, AI dapat membantu proses akademik menjadi lebih efektif dan efisien, tetapi penggunaannya tidak boleh menghilangkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen.
“AI dapat membantu proses akademik menjadi lebih efektif dan efisien. Namun, penggunaannya harus memperhatikan proses transfer nilai dan keilmuan karena penyampaian akademis tidak hanya membutuhkan efektivitas dan efisiensi, tetapi juga nilai dan rasa,” tegas Bayu.
Dalam penyusunan materi, Bayu mengatakan AI digunakan untuk membantu mempercepat proses pembuatan bahan presentasi. Meski demikian, materi yang dihasilkan tetap dibaca dan diperiksa kembali untuk memastikan informasi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Ia juga menyesuaikan bahasa yang dihasilkan AI agar lebih sesuai dengan cara penyampaiannya kepada mahasiswa. Menurutnya, penggunaan AI seharusnya tidak menggantikan pemahaman dosen terhadap materi yang disampaikan.
Bayu menilai penggunaan AI juga tidak secara otomatis membuat materi menjadi lebih menarik bagi mahasiswa. Menurutnya, AI hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat proses pembuatan materi, bukan untuk membuat materi menjadi lebih menarik. “Kalau untuk menarik, saya rasa tingkat kemenarikan PowerPoint yang dibuat sekarang dengan yang sebelumnya tidak jauh berbeda, yang ingin saya bypass sebenarnya adalah efisiensinya,” ujar Bayu. Ia menambahkan proses penyampaian materi tetap membutuhkan pemahaman, pengalaman, dan sudut pandang dosen terhadap materi yang akan disampaikan kepada mahasiswa.
Pandangan tersebut juga dirasakan mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan materi yang dibuat menggunakan AI. Hirsyam (FAD/24) mengatakan penggunaan AI dapat diterima selama materi yang dihasilkan tetap diolah dan pesan pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik. Namun, penggunaan AI yang terlihat terlalu gamblang justru dapat memengaruhi minatnya dalam mengikuti pembelajaran. “Saya merasa kurang berselera untuk menyimak materi. Kalau AI digunakan untuk menunjukkan contoh hasil desain, maka bisa saja pakai AI. Namun, jika hanya sebagai penunjang visual pada materi, mungkin tidak perlu,” ujar Hirsyam.
Menurut Hirsyam, penggunaan AI dalam pembelajaran perlu disesuaikan dengan materi dan tujuan pengajaran agar hasil yang digunakan tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Ia menilai AI hanya sebatas alat bantu yang hasil akhirnya bergantung pada bagaimana cara pengguna memanfaatkan teknologi tersebut. Sehubungan dengan hal itu, Hirsyam mempertegas bahwa penggunaan AI yang tidak diolah dan disesuaikan dengan kebutuhan pengajaran dapat memengaruhi pandangannya terhadap profesionalitas dosen. Ia menilai penggunaan AI sebaiknya tidak menghambat pengembangan keterampilan dan kreativitas mahasiswa maupun dosen.
“Dalam hal-hal tertentu, AI adalah tool yang kuat untuk meningkatkan batasan kreativitas. Namun, perlu diingat bahwa AI hanyalah tools pembantu. Kreativitas sesungguhnya datang dari manusia,” pungkas Hirsyam.
Persoalan pada tampilan visual yang dihasilkan AI juga menjadi perhatian Wafiq (FAD/2025). Ia menjelaskan bahwa visual AI terkadang terlalu rapi dan masih bersifat umum sehingga tidak selalu sesuai dengan materi yang sedang disampaikan. Menurutnya, penggunaan visual seperti itu dapat membuat materi yang diberikan terasa kurang tepat. Selain tampilan, ia juga menilai informasi dari AI perlu diperiksa kembali karena sumbernya tidak selalu diketahui dengan jelas. “AI itu visualnya terlalu rapi dan terkadang terlalu umum sehingga tidak langsung sesuai dengan pemaparan materi. Selain itu, informasinya juga perlu disesuaikan agar lebih faktual karena sumbernya tidak selalu diketahui,” ujar Wafiq.
Wafiq mengungkapkan mahasiswa UPNVJT memiliki kemampuan di bidang desain yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan materi dan penyebaran informasi. Pandangan serupa disampaikan Hirsyam yang menyoroti penggunaan AI dalam penyampaian informasi melalui media sosial kampus. Ia mengatakan dirinya dan sejumlah mahasiswa FAD maupun di luar FAD tidak setuju apabila visual AI digunakan secara gamblang dalam penyebaran informasi di media sosial. Menurut Hirsyam, mahasiswa yang memiliki kemampuan di bidang desain, ilustrasi, dan multimedia dapat merasa keberadaannya kurang diperhatikan ketika visual berbasis AI digunakan dalam konten kampus.
“Sebagian teman-teman FAD maupun luar FAD tidak setuju dengan penggunaan visual AI yang sangat gamblang karena eksistensi mahasiswa kreatif terasa tidak diperhatikan. Berbeda dengan beberapa universitas yang sudah mengintegrasikan karya mahasiswa dalam media sosial maupun videotron,” ujar Hirsyam.
Bayu juga menilai kemampuan manusia tetap diperlukan meskipun AI digunakan dalam proses kreatif. Menurutnya, AI dapat digunakan untuk membantu mencari ide atau referensi, sedangkan pengembangan karya tetap membutuhkan kemampuan manusia. Ia menilai sudut pandang dan pengalaman yang dimiliki seseorang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI. “Sudut pandang, pengalaman, hasil riset-riset kita yang sudah kita jalankan itu tidak bisa diduplikasi dengan AI. Manusia itu berproses. AI hanya digunakan sebagai tools. Kalau kita tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, kita yang akan tertinggal,” tegas Bayu.
Bagi Hirsyam, keterlibatan mahasiswa tidak hanya menguntungkan mahasiswa, tetapi juga pihak pengelola akademik yang dapat memperoleh karya kreatif berkualitas sebagai cerminan kemampuan mahasiswanya. Ia berharap diberikan kesempatan yang nantinya menjadi jalan bagi mahasiswa untuk lebih dikenal dan membangun portofolio. “Pihak pengelola akademik bisa mendapat produk kreatif yang berkualitas dan berintegritas, sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk berekspresi, mengenalkan karya, dan menjadikannya portofolio untuk berkarier di masa depan,” ujar Hirsyam.
Selaras dengan Hirsyam, Wafiq berharap mahasiswa yang memiliki dasar ilmu desain dapat dilibatkan ketika pengajar membutuhkan mahasiswa untuk membuat materi presentasi. Wafiq juga mengingatkan agar isi materi tidak terlalu umum supaya informasi yang diterima mahasiswa tepat. “Ke depannya boleh menggunakan AI, tetapi disesuaikan lagi dengan materinya. Kalau dosen kekurangan orang untuk membuat PPT, bisa melibatkan mahasiswa agar isinya tidak terlalu umum dan tidak terjadi kesalahan dalam memberikan informasi,” tutup Wafiq. (isa/ldz/tta/dya)
