Peresmian SULD, Langkah Awal Bangun Kesadaran Peduli terhadap Mahasiswa Disabilitas

Sudut Sub-Unit Layanan Disabilitas
Sumber: Dokumentasi Pribadi LPM Pena Merah
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) berupaya mengembangkan lingkungan kampus yang lebih inklusif dengan diresmikannya Sub-Unit Layanan Disabilitas (SULD) Bela Negara. Hadirnya unit yang berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) dimaksudkan sebagai wadah pelayanan serta pendampingan bagi mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan kampus.
Melalui kegiatan Kunjungan Open House yang berlangsung pada 2–5 Juni 2026, SULD mengundang perwakilan Organisasi Mahasiswa (ormawa) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk memahami peran layanan disabilitas di lingkungan kampus. Selain memperkenalkan fasilitas dan program kerja yang dimiliki, berlangsungnya kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk menegaskan bahwa terciptanya kampus inklusif tidak hanya bergantung pada keberadaan SULD, tetapi juga keterlibatan dari seluruh sivitas akademika.
Sebagai relawan Divisi Pelatihan dan Pelayanan SULD, Sasaki Dwi Purboretno (FISIBPOL/25) menjelaskan bahwa keberadaan SULD tidak hanya berfokus pada kebutuhan mobilitas maupun pendampingan kepada penyandang disabilitas, tetapi juga mendukung mereka untuk tetap menjalani aktivitas perkuliahan secara mandiri sesuai kebutuhan masing-masing. “Kalau ada mahasiswa yang membutuhkan bantuan mobilisasi dari satu gedung ke gedung lain, kami yang membantu. Tapi kami juga tidak ingin membuat mereka bergantung sehingga mereka tetap bisa mandiri dan lingkungan kampus ikut mendukung,” ujar Sasaki.
Selain berfokus pada layanan pendampingan, SULD juga aktif menjalankan berbagai program kerja untuk meningkatkan efektivitas layanan. Salah satunya adalah Teman Peduli Sosial Talks (TPS Talks). Program tersebut digelar dengan tujuan untuk berbagi pengalaman sekaligus meningkatkan pemahaman dari seluruh sivitas akademika mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi penyandang disabilitas.
“Kalau TPS Talk bulan Maret kemarin, mereka belajar melalui film tentang disabilitas. Setelah menonton, mereka mendiskusikan berbagai hal yang ada dalam film tersebut dan mempelajari berbagai ragam disabilitas,” tambah Sasaki.
Koordinator Bidang Humas dan Digital SULD, Zahrotul Munawwaroh atau bisa dipanggil Zara yang juga menjabat sebagai dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, menjelaskan bahwa dalam satu semester, SULD dapat menyelenggarakan sedikitnya 15 kegiatan, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Menurut Zara, meski berbagai layanan dan program telah diberlangsungkan oleh SULD, penyandang disabilitas di UPNVJT masih menghadapi sejumlah kendala selama menjalani aktivitas perkuliahan. Salah satunya berkaitan dengan fasilitas kampus yang dinilai belum sepenuhnya mendukung kebutuhan seluruh penyandang disabilitas. “Kalau untuk segi fasilitas di UPN sih, menurut saya masih kurang. Masih banyak gedung yang belum memiliki ramp (akses landai) maupun lift, jadi mobilisasi mereka agak sedikit terkendala,” ungkap Zara.
Selain masalah fasilitas fisik yang tersedia di lingkungan kampus, Zara menilai kendala lain datang dari aspek pembelajaran yang mana metode penyampaian materinya belum sepenuhnya ramah untuk seluruh mahasiswa. Menurutnya, masih banyak dosen dan tenaga pendidik yang belum memahami kebutuhan mahasiswa disabilitas maupun metode pembelajaran yang sesuai. “Selain lift yang tidak tersedia di semua gedung, fasilitas pembelajaran juga masih perlu ditingkatkan. Masih banyak dosen yang belum memahami bagaimana cara mengajar mahasiswa disabilitas,” jelas Zara.
Zara juga menyoroti masih rendahnya kesadaran sebagian sivitas akademika terhadap kebutuhan penyandang disabilitas. Zara menilai bahwa fasilitas yang disediakan akan sulit memberikan manfaat secara maksimal apabila tidak dibarengi dengan kepedulian terhadap hak-hak pengguna prioritas dari masyarakat. “Fasilitasnya bisa ditingkatkan, tetapi kalau kesadaran masyarakatnya masih kurang ya buat apa, fasilitas tersebut tetap tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh teman-teman disabilitas,” ujar Zara.
Ungkapan Zara salah satunya sejalan dengan pengalaman yang diceritakan Sasaki mengenai seorang mahasiswa penyandang tunanetra yang mengalami kesulitan saat menggunakan fasilitas lift di gedung Twin Tower UPNVJT. Kondisi tersebut kemudian mendorong lahirnya program Lift Peduli yang menyasar pada pemanfaatan fasilitas kampus dengan tujuan bagi pengguna prioritas secara tepat.
Selain itu, SULD juga mengadakan Bimbingan Teknis (BIMTEK) bagi koordinator program studi di setiap Fakultas guna memperkuat pemahaman mengenai praktik inklusif di lingkungan kampus. “Melalui BIMTEK, kami memberikan alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan ketika di kelas ada mahasiswa disabilitas. Harapannya informasi tersebut dapat diteruskan kepada dosen-dosen di masing-masing program studi,” jelas Zara.
Melalui berbagai program kerja yang dijalankan, Sasaki berharap mahasiswa penyandang disabilitas tidak hanya memperoleh akses terhadap kemudahan pendidikan, tetapi juga diberikan perlakuan yang setara untuk menjalani kegiatan perkuliahan selama berada di kampus. “Saya berharap UPN semakin inklusif, baik dari segi fasilitasnya, metode pembelajarannya, sampai pendataan dari mahasiswa disabilitas itu harus dimaksimalkan,” ujar Sasaki.
Senada dengan hal tersebut, Zara berharap kesadaran sivitas akademika terhadap isu disabilitas dapat terus meningkat. Ia mengungkapkan berbagai program yang telah dijalankan SULD selama ini masih berfokus pada tahap membangun kesadaran masyarakat kampus mengenai pentingnya lingkungan yang inklusif.
“Harapan saya tidak muluk-muluk. Saya hanya berharap kesadaran seluruh warga kampus meningkat. Karena jumlah anggota SULD tidak sampai 20 orang, sedangkan warga UPN mencapai puluhan ribu orang. Tidak mungkin kurang dari satu persen orang bisa menopang kebutuhan seluruh kampus tanpa dukungan dari semua pihak,” tutup Zara. (isa/ash/tta)
