Kendala Sistem hingga Minimnya Mitra, Magang Berdampak Jadi Sorotan

Simbelmawa Kemdikbud
Sumber: Dokumentasi Pribadi LPM Pena Merah
Usai pendaftaran Magang Berdampak pada 16 Juni hingga 11 Juli 2025 silam, mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) mengeluhkan berbagai kendala sejak pelaksanaan perdana program tersebut. Sejumlah hambatan yang muncul antara lain terkait sistem Simbelmawa yang belum sepenuhnya berjalan optimal, jumlah mitra yang lebih sedikit dibandingkan program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), ketiadaan simulasi teknis dari pihak pusat, hingga keterbatasan waktu antara sosialisasi dan batas akhir pendaftaran.
Magang Berdampak sendiri merupakan program pengganti MSIB yang baru ditetapkan pada tahun 2025 oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Sebelumnya program MSIB dijalankan sebagai bagian dari kebijakan Kampus Merdeka untuk membuka kesempatan kepada mahasiswa memperoleh pengalaman kerja di dunia industri sebagai magang melalui mitra industri.
Namun dalam awal pelaksanaannya, Rayhan (FEB/23) selaku mahasiswa yang mengikuti program ini, mengungkapkan bahwa platform pelaksanaan program Magang Berdampak, yakni situs Simbelmawa kerap mengalami kendala teknis. Bahkan, ia menyebutkan harus mencoba berkali-kali agar proses pendaftaran berhasil. “Jam-jam malam yang mana itu sepi, baru bisa kita daftar. Itu pun harus melakukan percobaan berkali-kali. Ada mungkin 50-60 kali dicoba baru bisa,” tuturnya.
Selain masalah situs, Rayhan juga menyoroti keterbatasan mitra yang hanya berjumlah 17, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan program MSIB sebelumnya. Tak hanya itu, ia menilai bahwa keberadaan mitra pada program Magang Berdampak kurang mengakomodasi bidang ilmu sosial dan humaniora (soshum) dan cenderung berfokus pada bidang ilmu sains dan teknologi (saintek). “Yang saya sayangkan, mitra magangnya bisa dibilang sedikit dan kebanyakan yang saya cek di web-nya itu berasal dari bidang ilmu saintek,” tuturnya.
Menurut Henni Endah Wahanani selaku Koordinator Perguruan Tinggi (PT), sistem Simbelmawa yang kerap error dan jumlah mitra yang sedikit ini menyebabkan menurunnya motivasi mahasiswa untuk mendaftar program Magang Berdampak dibandingkan dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebelumnya. “Kemarin, ketika saya melihat pendaftaran (Magang Berdampak) dibandingkan MBKM sebelumnya, ini (Magang Berdampak) kurang optimal,” ungkapnya.
Berdasarkan pengakuan Henni, penyebaran informasi oleh pihak pusat kepada Koordinator Perguruan Tinggi juga dinilai masih kurang. Henni mengungkapkan bahwa bentuk informasi Magang Berdampak dari pihak pusat hanya berupa dokumen PDF yang dikirimkan lewat grup Koordinator Perguruan Tinggi seluruh nasional, bukan simulasi yang jelas. Ini yang kemudian menyebabkan kebingungan. “Kami juga jadi bingung saat ditanya teknis pelaksanaan. Mahasiswa bertanya ke kami, tapi kami belum diberi panduan resmi lebih rinci selain dari file yang dibagikan (oleh pusat),” terangnya.
Terdapat juga persoalan mengenai kurang tanggapnya pihak penyelenggara program kepada mahasiswa tentang situs Simbelmawa yang tidak berfungsi dengan maksimal serta keterbatasan waktu antara sosialisasi dan tenggat pendaftaran. Henni mengungkapkan bahwa hal tersebut diakibatkan karena pihak Koordinator Perguruan Tinggi belum menerima informasi resmi dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa).
“Kalau dari Belmawa atau kementerian tidak memberikan surat edaran untuk melakukan sosialisasi, ya kami tidak bisa melakukan sosialisasi,” jelas Henni. Namun, sebagai upaya pemberian informasi kepada mahasiswa, Koordinator Perguruan Tinggi telah menyediakan media komunikasi seperti komunitas Telegram serta Whatsapp. Henni beranggapan bahwa media komunikasi tersebut sudah dirasa cukup sebagai media komunikasi dengan mahasiswa.
Baik Rayhan sebagai mahasiswa yang mengikuti program Magang Berdampak, serta Henni selaku Koordinator Perguruan Tinggi menyoroti beberapa aspek yang memerlukan adanya upaya peninjauan kembali dalam pelaksanaan program ini. Mereka menekankan pentingnya optimalisasi sistem, perbaikan pola sosialisasi, penyediaan simulasi sistem yang memadai, serta penambahan jumlah mitra agar lebih relevan dan merata di berbagai bidang ilmu. “Kalau kita berkaca di MSIB sebelumnya, itu bisa dijadikan acuan. Nah, kenapa yang sekarang justru mengalami kemunduran, itu yang perlu dievaluasi,” tutup Rayhan. (nsy/shn/alf/rfk)
