Piala Rektor Kembali Digelar, Mahasiswa Soroti Persiapan dan Koordinasi

Piala Rektor UPNVJT 2025
Sumber: Dokumentasi Pribadi LPM Pena Merah
Beragam reaksi muncul dari kalangan mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) setelah tersiar kabar kembalinya ajang Piala Rektor yang sebelumnya vakum selama dua tahun. Keputusan mendadak yang ditetapkan dalam forum bersama dengan perwakilan setiap fakultas mengesahkan bahwa ajang kompetisi mahasiswa di bidang non-akademik ini dibuka per tanggal 16 Mei 2025. Lantaran kemunculannya yang tiba-tiba, sontak menuai tanda tanya besar dari sejumlah mahasiswa terkait alasan dibalik kembalinya pekan turnamen ini.
Wina (FISIBPOL/22), selaku Ketua Pelaksana Piala Rektor 2025, menyebutkan bahwa agenda tersebut sebenarnya telah dirundingkan oleh pihak fakultas dan koordinator Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pada akhir tahun 2024, tepatnya sejak bulan September dan Oktober. Ia membenarkan bahwa penetapan waktu yang diberikan oleh pihak universitas sangat singkat, tanpa memperhitungkan segi kesiapan panitia hingga para peserta lombanya sendiri. “Kalau masalah waktu, memang bisa dilihat dan saya pun juga sadar sendiri bahwa waktunya sangat cepat, maksudnya perubahan (regulasi) pun juga sangat signifikan dan cepat,” pungkasnya.
Selaku Menteri dari Kementerian Seni dan Olahraga di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Budaya dan Politik (BEM FISIBPOL) periode 2025, Bernard (FISIBPOL/23) menyampaikan kebingungannya terkait pelaksanaan agenda yang dinilai memiliki kesan terburu-buru, baik dari segi perencanaan maupun eksekusinya. Ia mengapresiasi inisiatif menghidupkan kembali Piala Rektor di bawah Koordinator UKM sebagai langkah baru, namun menyayangkan linimasa yang terlalu singkat. “Yang sangat aku sayangkan adalah kenapa kok maksa banget dengan linimasa yang se-mepet ini, terus ya banyak hal yang menurutku agak memaksakan gitu. Dan jatuhnya itu menyudutkan teman-teman fakultas. Semuanya itu menurutku kembali lagi ke linimasa” tegasnya.
Bernard juga mengungkapkan kekecewaannya atas kurangnya koordinasi antara panitia Piala Rektor 2025 dan delegasi fakultas. Menurutnya, rancangan acara seharusnya terlebih dahulu didiskusikan bersama pihak fakultas sebelum diajukan kepada rektor untuk perizinan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya sehingga forum bersama fakultas kehilangan ruang diskusi karena hanya membahas keputusan yang sudah final. Bernard pun menyayangkan hilangnya kesempatan bagi fakultas untuk memberikan persetujuan maupun masukan dalam perencanaan agenda tersebut.
Selain itu, Bernard juga menyoroti euforia yang menurutnya masih kurang. Ia berpendapat bahwa euforia perlu ditingkatkan mengingat acara ini berskala universitas. “Euforia acara menurutku bisa jauh lebih besar, lebih excited. Karena ini sudah skala univ gitu loh. Baik dari segi media sosial dan segala macam itu menurutku masih bisa ditingkatkan,” imbuhnya. Ia juga mengatakan bahwa jiwa kompetitif memang tumbuh di kalangan pemain yang bertanding, tetapi dari sisi mahasiswa atau supporter masih kurang terasa
Tak hanya masalah linimasa, perubahan regulasi yang acapkali berubah mendekati hari-H juga semakin menambah keresahan peserta. Nabil (FIK/24) sebagai salah satu peserta dalam cabang olahraga futsal, mengaku aturan yang diberlakukan kerap mengalami pembaruan yang tiba-tiba sehingga menyebabkan miskomunikasi dan kurangnya persiapan lomba. “Regulasinya berubah-ubah karena ada masalah yang muncul, sehingga dampaknya ke waktu yang jadi mepet. Itu menyebabkan banyak miskomunikasi antara penyelenggara dan koordinator” ujarnya.
Meskipun banyak persiapan yang dirasa kurang optimal, Wina memastikan bahwa panitia telah melakukan koordinasi dan pendampingan dengan tiap fakultas dalam mempersiapkan perlombaan. Ia juga menyampaikan bahwa masukan dan saran dari fakultas terkait pelaksanaan kegiatan telah didengarkan. Wina menegaskan panitia sudah berupaya menyesuaikan kebutuhan setiap ajang perlombaan dengan mengedepankan koordinasi antar fakultas.
Untuk pelaksanaan Piala Rektor berikutnya, Nabil berharap bahwa kedepannya pihak panitia dapat mengkoordinir lebih awal kepada para peserta. Ia menambahkan pentingnya peraturan dari masing-masing UKM untuk dibuat lebih rinci agar bisa dipahami sejak awal dan mencegah miskomunikasi menjelang hari-H. Menurutnya, dengan persiapan yang lebih matang, jalannya pertandingan diharapkan bisa lebih maksimal dan menarik untuk ditonton.
Terakhir, Bernard menyampaikan kunci dari keberhasilan suatu acara adalah komunikasi yang terjalin atas pihak-pihak yang berkaitan dengan berdirinya acara tersebut, baik di internal panitia maupun dengan fakultas. Ia menilai banyak aspek yang masih bisa diperbaiki, termasuk soal kesiapan teknis dan koordinasi. “Dari beberapa agenda yang sudah terlaksanakan kayak technical meeting dan segala macam, profesionalitas panitia itu menurutku masih kurang,” tutupnya. (end/isa/daa/van)
